LOKAL POS – Di Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, usaha mikro sering kali tumbuh dari ruang paling sederhana: dapur rumah.
Dari ruang itulah Ibu Wirah menjalankan usaha produksi telur asin yang kini menjadi penopang ekonomi keluarganya, sekaligus contoh bagaimana kualitas dan pelayanan menjadi kunci keberlanjutan UMKM desa.
Usaha telur asin ini dirintis Ibu Wirah sejak 2007 saat kebutuhan rumah tangga menuntut sumber penghasilan yang lebih pasti. Berbekal ketersediaan telur bebek lokal dan pengetahuan yang dipelajari secara bertahap, ia mulai memproduksi telur asin dalam skala kecil.
Prosesnya dilakukan manual, dengan metode tradisional yang menekankan kebersihan dan ketepatan waktu pemeraman.
Dalam setiap produksi, Ibu Wirah menerapkan standar sederhana namun konsisten. Telur yang digunakan harus segar, tidak retak, dan dibersihkan satu per satu sebelum diasinkan.
Lama pemeraman diatur agar menghasilkan kuning telur yang masir dengan rasa asin seimbang. Ia memilih membatasi jumlah produksi harian agar kualitas tetap terkontrol.
“Kalau terlalu banyak, nanti rasanya bisa berubah,” ujarnya. Prinsip itu membuat usahanya tidak tumbuh cepat, tetapi stabil.
Dari sisi ekonomi, telur asin produksi Ibu Wirah menyasar pasar lokal dengan harga wajar dan terjangkau. Pelanggannya berasal dari warga sekitar Randusari hingga pembeli dari luar desa.
Distribusi dilakukan secara langsung, baik pembelian eceran maupun pesanan dalam jumlah tertentu untuk acara keluarga.
Pelayanan menjadi bagian penting dari strategi usaha. Ibu Wirah memastikan pesanan sesuai jumlah dan kondisi.
Telur yang retak atau kualitasnya menurun diganti tanpa biaya tambahan. Sikap ini membangun loyalitas pelanggan, meski tanpa promosi digital atau kemasan modern.
Kepercayaan konsumen tumbuh secara organik, dari rekomendasi antarwarga. Dalam konteks UMKM desa, pola ini masih menjadi salah satu jalur pemasaran paling efektif.
Konsistensi rasa dan sikap terbuka terhadap masukan membuat produk telur asin Ibu Wirah bertahan di tengah persaingan usaha pangan rumahan.
Secara sosial, usaha ini memberi dampak langsung bagi keluarga. Pendapatan dari telur asin digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian dan mendukung pendidikan anak-anak.
Usaha ini juga memberi fleksibilitas waktu, memungkinkan Ibu Wirah tetap menjalankan peran domestik tanpa meninggalkan aktivitas ekonomi.
Ibu Wirah tidak menargetkan ekspansi besar. Fokusnya adalah menjaga kualitas dan kelangsungan usaha. Baginya, UMKM tidak selalu harus tumbuh cepat, tetapi harus tahan lama. “Yang penting jalan terus dan orang tidak kecewa,” katanya.
Kisah Ibu Wirah merefleksikan wajah ekonomi rakyat di banyak wilayah pedesaan. UMKM skala rumah tangga menjadi tulang punggung ekonomi lokal, terutama bagi perempuan.
Mereka bekerja dalam ruang terbatas, dengan modal kecil, namun menopang kehidupan keluarga dan perputaran ekonomi desa.
Telur asin mungkin produk sederhana, tetapi proses di baliknya mencerminkan nilai-nilai penting dalam ekonomi rakyat: kerja telaten, kejujuran, dan relasi saling percaya antara produsen dan konsumen.
Nilai-nilai inilah yang sering luput dalam perbincangan ekonomi skala besar, tetapi justru menentukan keberlangsungan usaha kecil.
Dari Desa Randusari, usaha telur asin Ibu Wirah menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak selalu dimulai dari inovasi besar.
Ia bisa tumbuh dari ketekunan menjaga mutu, pelayanan yang adil, dan kesadaran bahwa setiap produk membawa nama baik pembuatnya.*(darojat/lokalpos)

