LOKAL POS – Lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dipelihara di Indonesia. Selain rasanya yang enak, lele juga tergolong mudah dipelihara dan memiliki harga jual yang stabil dan menguntungkan.
Oleh karena itu, bisnis lele menjadi salah satu jenis bisnis yang menjanjikan dan prospektif.
Peluang bisnis ikan lele di Indonesia sangat besar, mengingat permintaan pasar terhadap ikan lele segar dan berkualitas juga semakin meningkat.
Hal ini terlihat dari banyaknya warung lesehan di pinggir-pinggir jalan, rumah makan, pasar-pasar tradisional dan pasar swalayan yang membutuhkan pasokan ikan lele yang kontinyu.
Melihat peluang bisnis lele yang prospektif, dan pangsa pasarnya masih terbuka lebar, membuat Thomas Sutana, salah seorang Pendamping Lokal Desa (PLD) di Delangu Klaten Jawa Tengah, tertarik terjun dalam bisnis lele tersebut.
Menurut Thomas Sutana, ikan lele merupakan konsumsi masyarakat sehari-hari, tak ubahnya seperti telor dan daging ayam.
Produknya gampang dicari dan jarang terjadi kelangkaan. Harganya pun relatif stabil dan terjangkau.
Sebagai kebutuhan sehari-hari, usaha budi daya ikan lele boleh dibilang tidak ada matinya.
Bahkan, menurut Thomas Sutana, supply lele di pasar belum mampu mencukupi permintaan pasar.
Dia mencontohkan, kebutuhan lele di Yogya sekitar 40 ton per hari. Sebagian besar, permintaan ini dipenuhi oleh peternak lele di kampung lele, yang bisa menghasilkan panen lele 15 – 20 ton per hari.
Permintaan tersebut, tambah Thomas Sutana, belum termasuk dari wilayah Solo Raya.
Lanjut Thomas Sutana, program ketahanan pangan yang menjadi prioritas penggunaan dana desa sebetulnya bisa menjadi daya dorong bagi desa untuk melakukan budidaya lele sebagai bentuk ketahanan pangan hewani.
Memang, ada sejumlah desa melakukan usaha budidaya lele sebagai ketahanan pangan, namun usaha ini mengalami kegagalan. Tidak ada hasilnya sama sekali.
Dirinya terinspirasi berbisnis lele, berawal dari kegagalan budi daya lele yang dilakukan oleh pihak desa.
Karena rasa penasaran, apakah memang sulit menjalankan budi daya lele, akhirnya dia mencoba sendiri melakukan budidaya lele.
Tentu saja, sebelum melakukannya, seorang pendamping lokal desa di Delangu ini mengaku lebih dulu belajar ke berbagai tempat tentang bagaimana melakukan budidaya lele yang menguntungkan.
Dia mengaku sudah tiga minggu, mengelola budidaya lele. Dari 2500 bibit lele, jumlah kematian sekitar 20 ekor.
Menurutnya, kematian lele sejumlah itu tidak masalah. Karena saat pembelian 2500 bibit, diberi tambahan 150 bibit dari penjual bibit lele.
Dengan jumlah kematian yang relatif sedikit, ini berarti pemeliharaannya berada di jalur yang benar.
Dari 2500 bibit, diperkirakan nanti butuh Rp 2.535. 000 untuk bibit dan pakan hingga panen. Target panen minimal sebesar 200 kg.
Jika target ini bisa tercapai, akan diperoleh laba sebesar Rp 1.265.000. Laba ini mencapai 49,9 % dalam waktu 3 bulan.
“(Ini) layak untuk dijalankan,” ujar Thomas Sutana dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 7 Juni 2024.
Kira-kira 10 hari lagi, dia akan tebar 2500 bibit untuk kolam kedua dan satu bulan lagi tebar untuk kolam ketiga.
Tebar dengan jarak 1 bulan ini dirancang agar bisa panen 1 kolam setiap bulannya.
“Tak ada sesuatu yang tak bisa dipelajari. Semua bisa dipelajari jika mau belajar, termasuk budidaya lele. Keberhasilan tergantung pada usaha kita sendiri, bukan pada orang lain,” ujarnya.
Karena itulah, dirinya mengaku tidak pernah takut melangkah dalam melakukan kegiatan bisnis.
Namun, seperti bisnis lainnya, bisnis ikan lele juga memiliki risiko dan tantangan yang harus dihadapi, seperti hama dan penyakit yang bisa menyerang ikan lele, persaingan pasar, dan perubahan harga pasar.
Namun, secara keseluruhan, peluang dan prospek bisnis ikan lele tetap menjanjikan. Dengan manajemen yang tepat dan usaha yang gigih, bisnis ikan lele dapat menjadi salah satu sumber penghasilan yang menguntungkan.* (darojat/lokalpos)





