Ketika Buruh Tani Mengatur Petani: Dampak Kelangkaan Tenaga Kerja di Sawah

Pertanian622 Views

Lokal Pos – Pagi baru saja menyingkap embun di hamparan sawah desa. Air mengalir perlahan di antara celah batang padi menuju petakan sawah yang lebih rendah, memantulkan langit yang mulai memerah.

Namun pemandangan yang biasa terlihat itu kini menyimpan cerita baru: petani tak lagi sepenuhnya menentukan kapan sawahnya ditanami. Justru para buruh tanilah yang sering menentukan jadwalnya.

Kelangkaan tenaga kerja di sektor pertanian membuat posisi buruh tani berubah. Jika dulu mereka menunggu panggilan petani, kini petanilah yang harus menyesuaikan diri dengan waktu luang para buruh.

“Kalau mau tanam minggu ini, buruhnya belum tentu ada. Kadang harus nunggu giliran minggu depan,” kata seorang petani padi asal Desa Randusari – Pagerbarang -Tegal yang engan disebutkan namanya, Minggu 8 Maret 2026.

Menurutnya, saat musim tanam tiba, jumlah buruh yang tersedia tidak sebanding dengan luas sawah yang harus digarap. Akibatnya, jadwal tanam sering bergeser mengikuti ketersediaan tenaga kerja.

Fenomena ini makin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Banyak warga desa usia produktif memilih bekerja di sektor lain: merantau ke kota, bekerja di pabrik, atau menjadi pekerja migran di luar negeri.

Terlebih lagi, sekarang ini banyak industri-industri yang ekspansi ke desa. Kondisi ini tentu saja memicu kaum muda usia produktif lebih memilih bekerja di pabrik dari pada di sawah.

Sawah pun kehilangan tenaga muda yang dulu menjadi tulang punggung kegiatan tanam.

Buruh tani yang masih bertahan sebagian besar justru berasal dari kelompok usia lanjut. Mereka tetap bekerja karena kebutuhan hidup, namun jumlahnya semakin sedikit.

“Sekarang kelompok buruh tanam padi tinggal beberapa saja. Kalau musim tanam, semua petani berebut,” ujarnya.

Situasi itu membuat buruh tani berada dalam posisi tawar yang lebih kuat. Mereka harus membagi waktu dari satu sawah ke sawah lain.

Dalam kondisi seperti ini, bukan hal aneh jika petani harus mengikuti jadwal yang ditentukan para buruh.

“Biasanya mereka bilang, ‘Pak, sawahnya ditanam hari Senin saja. Minggu ini saya sudah penuh,’” katanya sambil tersenyum.

Perubahan ini terasa ironis bagi sebagian petani. Dahulu mereka yang menentukan waktu kerja. Kini, keputusan itu sering bergantung pada ketersediaan tenaga tanam.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga membawa dampak pada pola tanam. Ketika jadwal mundur beberapa hari atau bahkan minggu, ritme musim tanam bisa ikut berubah. Jika terlalu lama menunggu buruh, risiko terlambat tanam pun semakin besar.

Beberapa petani sebenarnya mulai mencoba menggunakan alat pertanian modern untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja. Namun tidak semua mampu membeli atau menyewa alat tersebut.

“Mesin tanam ada, tapi tidak semua sawah bisa dipakai. Apalagi biaya sewanya juga lumayan,” kata seorang petani lainnya.

Di tengah perubahan zaman, kehidupan di sawah memang ikut bergeser. Buruh tani yang dulu berada di lapisan paling bawah dalam rantai produksi kini memiliki peran yang lebih menentukan.

Bagi para petani, kenyataan itu menjadi pengingat bahwa pertanian bukan hanya soal tanah dan air. Ada manusia yang menjadi penggeraknya. Ketika jumlah mereka semakin sedikit, seluruh sistem di sawah pun ikut berubah.

Kini, di beberapa desa, cerita yang dulu terasa mustahil justru menjadi kenyataan sehari-hari: petani menunggu jadwal dari buruh tani untuk mulai menanam padi.*(Darojat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *