Ketika Bahasa Arab yang Dikenal Hanya dari Mimbar

Opini670 Views

Oleh : Aziz Muzayin

Dosen Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Pemalang

 

Hal yang kadang menyebalkan saat mengobrol soal bahasa Arab dengan orang-orang di sekitar saya. Begitu kata itu disebut, yang muncul di kepala mereka hampir selalu sama: ayat suci, khotbah Jumat, doa, atau ceramah tentang akhirat.

Bahkan tidak jarang, ketika sedang mendengar orang berbincang dengan bahasa Arab, kebanyakan para pendengar hanya menyoraki amin-amin. Seolah ini adalah doa.

Jarang sekali ada yang kepikiran bahwa bahasa Arab itu juga bahasa yang dipakai orang Mesir untuk menawar harga di pasar, atau bahasa yang dipakai anak muda Yordania bikin lelucon receh di TikTok. Atau bahasa Arab juga bahasa untuk mengumpat ketika marah.

Saya kebetulan dosen semantik, jadi hal-hal semacam ini yang bikin saya penasaran. Kenapa bisa begitu? Kenapa satu bahasa, yang penuturnya ratusan juta orang dengan segala macam kehidupan sehari-harinya, di kepala kita cuma dikenal dari satu sisi saja?

Jawabannya, kalau kita pikir-pikir, sederhana saja: karena jalur masuknya memang cuma satu. bahasa Arab yang sampai ke kita bukan bahasa Arab yang dipakai orang Arab mengobrol tiap hari.

Yang sampai ke kita adalah fushha, bahasa baku, bahasa Al-Qur’an dan kitab-kitab, yang memang dianggap paling pantas untuk urusan yang serius dan suci.

Sementara bahasa yang mereka pakai sehari-hari, yang disebut amiyah, nyaris tidak pernah sampai ke telinga kita. Baru belakangan ini, lewat media sosial, sedikit-sedikit kita mulai kebagian.

Dan itu pun masih terbatas. Saya sempat baca penelitian soal konten dakwah bahasa Arab di YouTube, dan ternyata masalahnya memang di situ: keberagaman dialek antara fushha dan amiyah bikin konten-konten itu cenderung tetap memilih ragam yang formal, yang baku, karena dianggap lebih pantas untuk konteks keagamaan.

Jadi meskipun sekarang ada platform yang harusnya lebih santai, yang disalurkan ke kita tetap wajah yang serius itu-itu saja.

Padahal kalau kita iseng buka linimasa TikTok atau Instagram orang Arab langsung, kelihatan sisi lain yang selama ini jarang kita tahu.

Ada humor yang buat sebagian orang kita mungkin terasa kelewatan, bercanda soal kemiskinan, soal kematian, dengan nada dingin yang bikin ngakak sekaligus agak ngeri.

Ada istilah untuk itu, guyonan tepi jurang, tertawa di dekat sesuatu yang seharusnya bikin sedih.

Ini bukan berarti ada yang salah dengan bahasa Arabnya. Ini cuma menunjukkan bahwa bahasa itu, sama seperti bahasa lain, dipakai orang untuk seluruh isi hidupnya, bukan cuma buat yang serius-serius saja.

Saya kira ini juga bukan gejala baru, cuma jarang kita sadari. Kalau ditelusuri di sastra kita sendiri, sebetulnya ambivalensi soal bahasa Arab ini sudah lama ada.

Ada novel yang menempatkan orang yang fasih bahasa Arab sebagai simbol kesalehan tertinggi, semacam Ayat-Ayat Cinta. Tapi ada juga cerita pendek, saya ingat pernah baca ulasan soal karya Seno Gumira Ajidarma, yang justru menggambarkan bahasa Arab sebagai beban, sebagai bahasa yang dipaksakan lewat sistem pendidikan, yang bikin tokohnya merasa asing dengan agamanya sendiri, bukannya dekat.

Bahkan ada naskah teater yang memakai bahasa Arab justru buat menyindir kesalehan yang berlebihan. Jadi sebetulnya kita sendiri, lewat karya-karya kita, sudah pernah menyentuh sisi lain bahasa Arab ini.

Cuma memang kalah gaung dibanding citra tunggalnya yang datang dari mimbar dan madrasah.

Ada ongkos yang dibayar dari kebiasaan ini. Anak-anak muda yang tumbuh cuma kenal bahasa Arab lewat hafalan dan tajwid, tanpa pernah tahu bahwa penutur aslinya juga saling meledek pakai bahasa itu, jadi merasa bahasa Arab itu berat dan jauh. Bukan sesuatu yang bisa didekati sambil santai, tapi sesuatu yang harus ditunduki dengan serius.

Dan orang Arabnya sendiri, dalam bayangan kita, ikut jadi satu warna: umat yang khusyuk, jauh dari tawa. Padahal kalau kita cek sendiri media sosialnya, jauh banget dari itu.

Saya kira menghormati sebuah bahasa itu bukan dengan cara membatasi kemunculannya cuma di ruang yang paling serius.

Kita menerima bahasa Inggris dengan wajah jurnal ilmiah sekaligus wajah meme, tanpa merasa itu masalah. Bahasa Jepang kita terima dengan wajah sastra klasik sekaligus anime konyol.

Tapi khusus bahasa Arab, karena kelekatannya dengan yang sakral, kita cenderung cuma mau menerima satu sisi saja, dan itu, ironisnya, malah tidak sesuai dengan kenyataan bahasa itu di tempat asalnya.

Di sini saya jadi teringat gagasan Prof. Sugeng Sugiyono, salah satu guru saya, dalam bukunya soal semantik Kun Fayakun.

Dalam Al-Qur’an, “kun fayakun“, jadilah, maka jadi, adalah gambaran paling ekstrem tentang bagaimana kata bisa menciptakan kenyataan. Bukan sekadar menggambarkan sesuatu yang sudah ada, tapi kata itu sendiri yang membuat sesuatu itu ada.

Kalau prinsip ini kita tarik ke soal bahasa Arab yang kita bicarakan di sini, mp sebenarnya ada pelajaran yang cukup dalam: cara kita memaknai sebuah bahasa juga ikut menciptakan kenyataan tentang bahasa itu.

Ketika kita terus-menerus cuma memperlakukan bahasa Arab sebagai bahasa surga-neraka, kita sebenarnya sedang mengucapkan batasnya sendiri, dan batas itu pun jadi kenyataan yang kita wariskan ke generasi berikutnya.

Sebaliknya, kalau kita berani memaknainya lebih luas, ikut mengakui sisi jenaka dan manusiawinya, kita pun sedang ikut menciptakan kenyataan baru yang lebih jujur soal bahasa itu.

Jadi menurut saya, ada baiknya kita mulai membuka diri mengenal bahasa Arab lebih dari sekadar lewat mimbar.

Sesekali coba lihat orang Arab yang lagi bercanda soal hidupnya sendiri di media sosial. Sebab cara kita memaknai sebuah bahasa, pada akhirnya, ikut menentukan bahasa itu akan kita kenal sebagai apa.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *