PAGERBARANG, LOKAL POS — Penerapan teknologi PM-AAS pada Musim Tanam (MT) III tahun 2026 di Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, mencapai 122,65 hektar. Desa Kedungsugih menjadi wilayah dengan luasan penerapan terbesar, yakni mencapai 95,6 hektare.
Apa itu PM-AAS ? PM-AAS = Pertanian Modern – Advanced Agriculture System.
Ini bukan sekadar pola tanam baru, tetapi sistem budidaya padi terpadu yang menggabungkan pengaturan populasi tanaman, mekanisasi, pengelolaan air dan hara, benih unggul, teknologi digital/presisi, serta pendampingan petani.
Sistem ini dikembangkan dari hasil kajian dan pengujian Kementan dengan mengadopsi praktik dari Arkansas/AS, China, Vietnam, dan kemudian dipadukan dengan teknologi yang berkembang di Indonesia.
Beberapa komponen penting dalam penerapan PM-AAS antara lain:
– Tanam benih langsung (Tabela), sehingga mengurangi proses persemaian dan pindah tanam.
– Jajar legowo dengan barisan lebih rapat, termasuk rekomendasi pola 6:1.
– Meningkatkan populasi tanaman per hektar secara terukur.
– Mekanisasi, mulai pengolahan tanah, tanam hingga panen.
– Combine harvester untuk pemanenan.
– Pengelolaan air secara efisien, termasuk Alternate Wetting and Drying (AWD).
– Pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman dan peningkatan populasi.
– Varietas unggul, terutama yang sesuai lokasi dan tahan rebah.
– Pengendalian hama dan penyakit serta pendampingan intensif.
Dengan penerapan PM-AAS seperti tersebut di atas, diarahkan untuk: meningkatkan produktivitas padi; menekan biaya produksi; menghemat tenaga kerja; meningkatkan efisiensi pupuk, air dan input; meningkatkan indeks pertanaman; mengoptimalkan lahan sawah yang sudah ada; meningkatkan pendapatan petani; dan mendukung swasembada pangan.
Terkait implementasi PM-AAS di wilayah Kecamatan Pagerbarang, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pagerbarang, Teguh Adi Pamungkas, mengatakan pada Kamis (10/9/2026), di kantor BPP Pagerbarang bahwa berdasarkan data BPP Pagerbarang, penerapan PM-AAS di MT III tahun 2026 tersebar di tujuh desa.
Tujuh desa tersebut meliputi : Desa Kedungsugih 95,60 Ha, Randusari 9,45 Ha, Pagerbarang 6,00 Ha, Desa Srengseng 5,00 Ha, Surokidul 3,60 Ha, Jatiwangi1,00 Ha, dan Desa Rajegwesi 1,00 Ha.
Dari data tersebut, Desa Kedungsugih mendominasi penerapan PM-AAS, dengan luasan mencapai sekitar 95,6 hektar.
Teguh berharap penerapan teknologi tersebut mampu memberikan dampak nyata terhadap produktivitas tanaman padi. Bahkan, target produksi yang ingin dicapai cukup signifikan dibandingkan hasil sebelumnya.
“Harapannya dengan menerapkan PM- AAS mampu meningkatkan produksi 10 ton gabah kering panen per hektar dari sebelumnya cuma 6,5 ton per hektar,” ujar Teguh Adi Pamungkas.
Target Naik 3,5 Ton per Hektare
Jika target tersebut tercapai, produktivitas padi melalui penerapan PM AAS diharapkan meningkat sekitar 3,5 ton GKP per hektare, atau naik sekitar 53,8 persen dibandingkan produktivitas sebelumnya yang berada di kisaran 6,5 ton GKP per hektar.
Angka tersebut tentu menjadi target yang cukup tinggi. Karena itu, hasil panen nantinya akan menjadi ukuran penting untuk melihat efektivitas penerapan PM AAS di tingkat petani.
Dengan total areal 122,65 hektar, apabila target 10 ton GKP per hektar tercapai secara rata-rata, potensi produksi dari lahan penerapan tersebut secara teoritis dapat mencapai sekitar 1.226,5 ton GKP.
Sementara dengan produktivitas sebelumnya sebesar 6,5 ton GKP per hektare, produksi dari luasan yang sama berada di kisaran 797,23 ton GKP.
Artinya, terdapat potensi tambahan produksi sekitar 429,28 ton GKP apabila target 10 ton per hektar benar-benar dapat dicapai secara merata.
Namun, angka tersebut masih merupakan potensi berdasarkan target produktivitas, bukan hasil panen aktual.*(Darojat)












