SEPENGGAL KISAH MASA KECIL

Sebuah tulisan kecil dari seorang anak untuk bapaknya

Humaniora1025 Views

Setiap hari aku menunggunya datang.

Entah sejak kapan kebiasaan itu dimulai. Aku juga tidak pernah benar-benar tahu berapa lama semuanya berlangsung. Satu tahun? Dua tahun? Aku lupa.

Tapi bagi seorang anak kecil, menunggu terasa begitu panjang.

Aku hanya tahu, setiap hari aku menunggu sampai matahari mulai bergeser dari atas kepala. Menunggu suara motor yang sudah kukenal. Menunggu seseorang yang selalu datang untuk mengajakku bermain, berjalan-jalan, atau sekadar membawaku pergi sebentar dengan motor bebek berwarna merah.

Motor yang sampai sekarang tidak pernah boleh dijual.

Mungkin karena di atas motor itulah tersimpan sebagian masa kecilku.

Usiaku waktu itu mungkin sekitar lima tahun. Aku tidak tahu pasti. Anak kecil mana yang peduli dengan usia, apalagi dengan seberapa banyak kenangan yang akan dibawanya sampai dewasa?

Namun ternyata ada beberapa kenangan yang tidak ikut menua.

Ia tetap tinggal di kepala.

Tetap utuh.

Bahkan ketika usiaku sudah menginjak seperempat abad, ada kalanya aku sedang duduk sendiri, lalu ingatanku seperti kembali pulang ke sebuah rumah lama. Di sana ada seorang anak kecil yang sedang menunggu bapaknya.

Orang-orang yang kukenal waktu itu sering berkata,

“Ibumu nanti akan pulang sore hari dari arah sana.”

Begitu terus.

Hari berganti hari.

Sore datang dan pergi.

Namun ibu tidak pernah pulang.

Tidak ada sosok perempuan yang wajahnya mirip denganku masuk melalui pintu rumah itu. Tidak ada seseorang yang bisa kupanggil ibu, lalu memelukku.

Bahkan sampai akhirnya aku meninggalkan rumah itu, ibu tidak pernah terlihat.

Sebagai seorang anak kecil, tentu aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Yang terpikir olehku hanya satu:

Apa mungkin ibu lupa jalan pulang?

Aku tidak tahu jawabannya.

Yang aku tahu, aku punya bapak.

Seseorang yang selalu berusaha menepati janjinya.

Di antara banyak orang, dialah yang selalu hadir agar aku tidak merasa sendirian.

Menurutku waktu itu, bapak adalah orang yang sangat pintar. Buktinya, dia selalu tahu jalan menuju rumahku.

Setiap kali hendak pulang, ada satu kebiasaan kecil yang selalu dia lakukan.

Dia memelukku.

Lalu berkata,

“Besok bapak ke sini lagi.”

Aku percaya.

Tentu saja aku percaya.

Aku masih terlalu kecil untuk memahami kenapa bapak harus pulang. Aku belum mengerti mengapa dia tidak tinggal saja bersamaku.

Kadang aku bertanya dalam hati:

Di mana rumah bapak?

Apakah pintunya berbeda dengan pintu rumahku?

Kenapa bapak tidak tinggal di rumah ini saja?

Tapi semua pertanyaan itu tidak terlalu penting bagiku.

Yang penting, besok bapak datang lagi.


Rutinitas kami hampir selalu sama.

Aku mandi pagi, makan, bermain, lalu menunggu.

Kadang aku bermain sampai matahari mulai bergeser. Tidak lagi tepat di atas kepala.

Itu tandanya sebentar lagi bapak datang.

Aku mulai bersiap.

Entah hari itu kami akan pergi ke mana.

Yang pasti, selalu ada rasa senang ketika membayangkan akan kembali naik motor bersama bapak.

Aku selalu duduk di depan ketika kami pergi.

Kaki kecilku sedikit tertekuk, sementara kedua tanganku bertumpu di atas spidometer. Aku duduk di sana dengan perasaan senang, sementara bapak mengendarai motor bebek merah kami menyusuri jalan.

Kadang kami melewati jalan yang di kanan dan kirinya terbentang sawah.

Aku mendengarkan bapak bercerita.

Sekarang aku sudah tidak ingat apa saja yang dia ceritakan. Sebagian besar mungkin sudah hilang bersama waktu.

Tetapi aku masih ingat rasanya.

Rasa aman ketika duduk di depan bapak.

Rasa senang ketika melihat jalanan terus bergerak di depan mata.

Kami juga pernah mampir membeli susu. Di dalam kotaknya ada hadiah kecil berbentuk bebek yang kemudian menjadi teman kecilku saat mandi.

Sesederhana itu kebahagiaanku waktu kecil.

Sebuah perjalanan naik motor.

Sebuah hadiah kecil.

Dan seorang bapak yang selalu datang.

Namun ada satu hal yang hampir selalu menjadi bagian dari perjalanan kami:

donat salju.


Kami punya tempat langganan.

Gerobak sederhana milik seorang ibu penjual donat salju.

Setiap kali mampir, bapak akan membelikanku sebungkus.

Kadang isinya dua.

Kadang hanya satu.

Aku tidak pernah tahu kenapa jumlahnya tidak selalu sama.

Aku juga tidak pernah bertanya.

Bagiku, berapa pun jumlahnya tidak masalah.

Yang penting aku bisa menikmati donat itu bersama bapak.

Plastik berisi donat salju itu biasanya kugenggam erat sepanjang perjalanan pulang. Aku menjaganya baik-baik agar tidak terjatuh.

Sesampainya di rumah, barulah plastik itu kubuka.

Kalau isinya dua, satu untukku dan satu untuk bapak.

Tapi kalau hari itu hanya ada satu donat, aku akan membaginya dengan tangan kecilku.

Setengah untuk bapak.

Setengah untukku.

Walaupun sebenarnya pembagianku tidak pernah benar-benar adil.

Bagian bapak biasanya lebih kecil.

Bagian untukku lebih besar, dengan salju yang lebih banyak.

Dan bapak tidak pernah mempermasalahkannya.

Dia selalu menerima bagian yang kuberikan.

Anehnya, bapak bisa menghabiskan donatnya dengan cepat.

Sepertinya setengah donat saja bisa langsung habis dalam beberapa gigitan.

Sedangkan aku selalu lebih lama.

Dan bapak selalu sabar menunggu sampai donat milikku benar-benar habis.

Setelah itu, dia membersihkan sisa gula salju yang menempel di tangan kecilku.

Dibersihkannya sampai benar-benar bersih.

Kemudian dia memelukku.

Pelukan itu seperti tanda bahwa waktunya bapak pulang sudah tiba.

Aku akan mengantarnya sampai ke depan.

Seperti biasa, bapak akan berkata,

“Besok bapak ke sini lagi.”

Dan seperti biasa pula, aku percaya.

Aku berdiri di depan rumah sementara bapak berjalan menuju motornya.

Sebelum pergi, dia melambaikan tangan.

Aku membalasnya.

Setelah motor itu menjauh, barulah aku masuk kembali ke dalam rumah.

Besok, bapak akan datang lagi.

Begitulah pikirku.


Memori masa kecilku tidak banyak.

Tetapi kejadian-kejadian yang berulang itu tersimpan begitu rapi di kepalaku.

Sederhana.

Tidak mewah.

Tidak ada perjalanan jauh.

Tidak ada mainan mahal.

Hanya motor bebek merah, jalanan, hamparan sawah, susu dengan hadiah bebek kecil, donat salju, dan seorang bapak yang selalu datang.

Tapi entah kenapa, semua itu terasa begitu manis.

Mungkin karena saat itu aku belum mengerti bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar.

Kadang kebahagiaan hanya berupa seseorang yang menepati janjinya untuk datang.

Kadang cinta hanya berupa tangan yang membersihkan sisa gula dari jemari kecil seorang anak.

Dan kadang rumah bukan tentang tempat seseorang tinggal.

Rumah adalah tentang siapa yang membuat kita merasa selalu punya tempat untuk pulang.

Bapak adalah salah satu bentuk cinta paling baik yang pernah kumiliki.

Tentu saja, kami tidak selalu baik-baik saja.

Ada hari-hari ketika bapak marah.

Ada hari ketika kami berdebat.

Ada hari ketika mungkin aku membuatnya kecewa.

Tetapi semua itu tidak pernah membuat sayangnya berkurang.

Bahkan ada saat-saat ketika justru bapak yang meminta maaf karena merasa belum memberikan yang terbaik dari apa yang bisa dia berikan.

Padahal aku tidak pernah meminta lebih.

Aku hanya ingin bapak datang.

Hanya itu.


Pak,

sebaik-baiknya manusia yang pernah aku temui dalam hidupku adalah engkau.

Pulangku tidak pernah kau tolak, bahkan ketika aku datang membawa begitu banyak kekurangan.

Tidak pernah sekalipun kau mengeluh atau menyesal telah memiliki aku.

Barangkali rasa lelah itu telah mendarah daging dalam dirimu.

Kau tetap bertahan.

Tetap datang.

Tetap menjadi bapak.

Dan aku masih menjadi anak kecil yang ingin kau miliki sampai kapan pun.

Pak,

aku hanyalah ruang kecil yang berisi begitu banyak harapan.

Aku ingin menjadi lapang.

Ingin menjadi seseorang yang suatu hari mampu memuat segala bahagia untukmu.

Kalau bisa, ingin kumasukkan seluruh kebahagiaan itu ke dalam sebuah toples kaca.

Lalu kupersembahkan semuanya untukmu.

Andai aku bisa.

Tapi, Pak…

siapalah aku?

Aku hanya anak kecilmu yang dulu selalu menunggumu datang dengan motor bebek merah.

Anak kecil yang duduk di depanmu dengan kaki sedikit tertekuk.

Anak kecil yang menggenggam plastik donat salju sepanjang perjalanan.

Anak kecil yang membagi satu donat menjadi dua, lalu diam-diam mengambil bagian yang lebih besar.

Anak kecil yang selalu percaya ketika kau berkata:

“Besok bapak ke sini lagi.”

Dan sampai hari ini aku masih ingin bertanya:

Aku akan tetap menjadi putri kecilmu, kan, Pak?


Beberapa tahun lalu bapak memberitahuku bahwa ibu penjual donat salju itu telah berpulang.

Entah kenapa, kabar sederhana itu membawa ingatanku kembali ke masa kecil.

Ke gerobak donat.

Ke plastik kecil yang kugenggam erat.

Ke motor bebek merah.

Ke jalan yang kami lewati.

Dan ke rumah tempat aku dulu menunggu ibu pulang.

Sekarang, setiap tahun aku kembali mengunjungi rumah itu.

Rumah yang dahulu, kata orang-orang, akan menjadi tempat ibu pulang dari arah sana.

Tetapi sekarang aku tahu kenyataannya.

Ibu bukan lupa jalan pulang.

Ibu tidak pernah tersesat.

Justru aku yang kini berjalan menuju arah itu.

Bersama bapak.

Menuju sebuah tempat yang dulu tidak pernah bisa kupahami.

Pemakaman.

Dan di sanalah aku akhirnya mengerti sesuatu yang mungkin tidak akan pernah dipahami oleh anak kecil berusia lima tahun:

Ada orang-orang yang kita tunggu pulang, tetapi mereka tidak akan pernah kembali melalui pintu rumah.

Namun cinta mereka tetap tinggal.

Dalam ingatan.

Dalam doa.

Dalam perjalanan yang kita ulang setiap tahun.

Dan dalam diri seseorang yang sejak dulu selalu berkata:

“Besok bapak ke sini lagi.”


Tulisan ini adalah suara kecilku dari masa lalu.

Suara seorang anak yang pernah duduk di depan motor bebek merah.

Seorang anak yang tidak mengerti mengapa ibunya tidak pulang.

Seorang anak yang hanya tahu bahwa setiap kali ia merasa sendirian, bapaknya akan datang.

Pak,

terima kasih sudah datang.

Terima kasih sudah berkali-kali menepati janji.

Terima kasih sudah menjadi rumah ketika aku bahkan belum mengerti apa arti rumah.

Terima kasih sudah bertahan melewati hari-hari yang mungkin membuat kata menyerah terasa begitu dekat.

Dan jika suatu hari nanti aku mampu menjadi seseorang yang membuatmu bangga, ketahuilah—

sebagian besar dari diriku tumbuh dari perjalanan-perjalanan kecil kita.

Dari motor bebek merah.

Dari hamparan sawah di kanan dan kiri.

Dari cerita-cerita yang kini sebagian besar sudah kulupakan.

Dari donat salju yang kadang hanya satu.

Dari setengah donat yang kuberikan kepadamu.

Dan terutama—

dari seorang bapak yang selalu pulang sambil berkata:

“Besok bapak ke sini lagi.”

Dulu aku percaya karena aku masih kecil.

Sekarang aku percaya karena aku sudah mengerti:

Bapak memang selalu kembali.

Dalam bentuk yang berbeda.

Dalam kenangan.

Dalam doa.

Dalam setiap jalan yang membawaku pulang.

Dan dalam diriku sendiri.

Karena sebagian dari diriku adalah hasil dari seorang bapak yang tidak pernah berhenti datang.

Terima kasih, Pak.

Dari anak kecilmu, yang sampai hari ini masih ingin menjadi putri kecilmu.

 

— Annisa Anandya Pramesti —

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *