Dulu Berseragam Biru Putih, Kini Bertemu di Grup WA: Kisah Alumni SMPN 1 Jatibarang yang Tak Lekang Waktu

Humaniora598 Views

BREBES, LOKAL POS — Ada masa yang tidak pernah benar-benar pergi.

Ia mungkin tertinggal puluhan tahun di belakang, tetapi sesekali kembali hanya karena sebuah nama, sebuah foto lama, atau sapaan sederhana di layar ponsel.

“Masih ingat saya?”

Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi pintu menuju kenangan panjang.

Begitulah yang terjadi di sebuah grup WhatsApp berisi para alumni SMP Negeri 1 Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, lulusan tahun 1987.

Hampir empat dekade berlalu sejak mereka meninggalkan bangku sekolah. Kehidupan membawa masing-masing ke jalan yang berbeda. Kesibukan, pekerjaan, keluarga, bahkan jarak membuat pertemuan menjadi sesuatu yang tidak mudah dilakukan.

Namun, sebuah grup WhatsApp membuat mereka kembali menemukan ruang untuk saling menyapa.

Bukan lagi di depan kelas.

Bukan lagi di halaman sekolah.

Bukan pula dengan seragam putih biru.

Kini, pertemuan itu berlangsung melalui layar ponsel.

Satu Foto, Puluhan Tahun Kembali

Percakapan di grup terkadang sederhana. Saling menanyakan kabar, berbagi foto, bercanda, atau sekadar mengingat nama teman lama.

Tetapi di balik pesan-pesan itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih besar: kenangan.

Sebuah foto lama bisa membuat anggota grup seolah kembali menjadi anak SMP.

Wajah-wajah yang dahulu setiap hari mereka lihat perlahan dikenali kembali. Ada yang berubah karena waktu, ada yang rambutnya sudah memutih, ada pula yang nyaris tidak berubah dari ingatan.

Nama panggilan masa sekolah pun kembali terdengar.

Cerita-cerita lama yang sempat terkubur puluhan tahun mendadak muncul lagi.

Yang dahulu mungkin dianggap sebagai kenakalan kecil, kini justru menjadi bahan tertawaan.

Yang dahulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang dirindukan.

Begitulah waktu bekerja.

Semakin jauh kita meninggalkan masa lalu, terkadang semakin berharga kenangan itu.

Dari Teman Sebangku Menjadi Saudara Seperjalanan

Mereka pernah berada dalam satu lingkungan yang sama.

Datang ke sekolah di pagi hari. Duduk di ruang kelas. Belajar bersama. Bercanda saat istirahat. Mengikuti kegiatan sekolah. Pulang bersama teman-teman.

Saat itu, mungkin tidak pernah terpikir bahwa suatu hari nanti mereka akan merindukan semua kesederhanaan tersebut.

Kini, masing-masing telah menjalani kehidupan sendiri.

Ada yang telah menjadi orang tua, bahkan mungkin sudah menjadi kakek dan nenek. Ada yang sukses dengan profesinya, ada yang menjalani kehidupan sederhana, dan ada pula yang memilih jalan hidup yang berbeda.

Tetapi ketika berada di grup itu, mereka seperti kembali menjadi anak-anak yang sama.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada status sosial.

Tidak ada jarak.

Yang ada hanyalah teman sekolah.

Itulah kekuatan silaturahmi.

Ia membuat seseorang kembali diingat bukan karena apa yang dimilikinya hari ini, melainkan karena pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup orang lain.

WhatsApp Bukan Sekadar Grup Percakapan

Bagi alumni SMP Negeri 1 Jatibarang lulusan 1987, grup WhatsApp itu mungkin hanya sebuah ruang digital.

Tetapi maknanya jauh lebih besar.

Ia menjadi tempat menyimpan kabar.

Tempat berbagi cerita.

Tempat tertawa bersama.

Tempat mengenang teman yang dahulu begitu dekat.

Dan yang paling penting, menjadi pengingat bahwa persahabatan yang lahir di bangku sekolah tidak harus berakhir ketika seseorang meninggalkan gerbang sekolah.

Puluhan tahun boleh berlalu.

Rambut boleh berubah warna.

Wajah boleh tak lagi seperti dulu.

Tetapi sebuah persahabatan memiliki caranya sendiri untuk tetap hidup.

Kadang cukup dengan sebuah pesan:

“Apa kabar, kawan?”

Lalu percakapan mengalir.

Kenangan pun kembali.

Sejenak, mereka seperti kembali mengenakan seragam biru putih.

Kembali menjadi anak-anak SMP.

Kembali ke masa ketika hidup terasa sederhana dan persahabatan terasa begitu dekat.

Karena Ada Kenangan yang Tidak Pernah Pensiun

Empat puluh tahun bukan waktu yang singkat.

Banyak hal berubah selama itu. Dunia berubah. Teknologi berubah. Kehidupan berubah.

Tetapi kenangan tentang masa sekolah ternyata tidak mudah hilang.

Grup WhatsApp itu menjadi bukti kecil bahwa ada bagian dari masa lalu yang masih ingin mereka rawat.

Bukan untuk hidup di masa lalu.

Melainkan untuk mengingat dari mana mereka pernah memulai.

Sebab, sebelum menjadi siapa pun mereka hari ini, mereka pernah menjadi anak-anak berseragam biru putih yang duduk bersama di bangku SMP.

Dan mungkin, di antara kesibukan kehidupan yang semakin panjang, itulah salah satu kenangan yang paling layak untuk tidak dilupakan.

Seragamnya sudah lama dilepas. Sekolahnya sudah menjadi kenangan. Tetapi persahabatannya masih menyala di layar ponsel.*(Darojat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed