Oleh: Redaksi Lokal Pos
Pemilihan Kepala Desa bukan sekadar memilih siapa yang paling dikenal, paling banyak memasang baliho, atau paling pandai menyampaikan janji. Pilkades pada dasarnya adalah momentum penting bagi masyarakat untuk menentukan arah masa depan desanya.
Seorang kepala desa akan memegang peran strategis dalam mengelola pemerintahan, pembangunan, pelayanan masyarakat, hingga penggunaan anggaran desa. Karena itu, masyarakat seharusnya tidak hanya bertanya, “Apa yang dijanjikan calon?”, tetapi juga “Apa yang sudah dilakukan calon selama ini?”
Di sinilah pentingnya mengenal rekam jejak calon kepala desa.
Janji Politik Mudah Diucapkan, Rekam Jejak Sulit Disembunyikan
Menjelang pemilihan, masyarakat biasanya akan disuguhi berbagai janji. Ada janji pembangunan jalan, bantuan sosial, peningkatan kesejahteraan, lapangan pekerjaan, hingga berbagai program yang terdengar menarik.
Janji memang bukan sesuatu yang salah. Masyarakat tentu berhak mengetahui visi dan program yang ditawarkan calon pemimpin. Namun, persoalannya muncul ketika pemilih hanya terpukau oleh kata-kata manis tanpa melihat apakah calon tersebut benar-benar memiliki kemampuan, integritas, dan pengalaman untuk mewujudkannya.
Sebab dalam politik, janji bisa dibuat dalam hitungan menit, tetapi rekam jejak terbentuk dalam hitungan tahun.
Rekam jejak dapat dilihat dari bagaimana seseorang menjalani kehidupannya di tengah masyarakat. Bagaimana sikapnya ketika diberi tanggung jawab? Apakah ia dikenal jujur? Apakah ia mampu bekerja sama dengan warga? Bagaimana kepeduliannya terhadap persoalan desa?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan masyarakat.
Kepala Desa Bukan Sekadar Jabatan
Menjadi kepala desa bukan hanya soal memenangkan kontestasi. Setelah pemilihan selesai, tantangan yang sesungguhnya justru dimulai.
Kepala desa harus mampu memimpin perangkat desa, membangun komunikasi dengan BPD dan lembaga kemasyarakatan, menyusun perencanaan pembangunan, mengelola anggaran, serta memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan pilihan politik.
Artinya, masyarakat membutuhkan pemimpin yang bukan hanya pandai berkampanye, tetapi juga mampu bekerja.
Desa saat ini juga menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Pengelolaan Dana Desa, transparansi APBDes, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengembangan BUMDes, pelayanan sosial, hingga persoalan administrasi pemerintahan membutuhkan pemimpin yang memiliki kapasitas.
Karena itu, memilih kepala desa semestinya tidak dilakukan seperti memilih tokoh paling populer. Popularitas tidak selalu sejalan dengan kapasitas. Kedekatan emosional juga tidak selalu menjamin kemampuan memimpin.
Jangan Memilih Karena Uang dan Kepentingan Sesaat
Salah satu ancaman terbesar dalam setiap kontestasi politik adalah ketika pilihan masyarakat dipengaruhi oleh kepentingan sesaat.
Politik uang, pemberian tertentu menjelang pemilihan, atau berbagai bentuk transaksi politik dapat merusak kualitas demokrasi di tingkat desa. Ketika suara dipandang sebagai barang yang bisa diperjualbelikan, maka proses memilih pemimpin kehilangan makna.
Masyarakat perlu menyadari bahwa keuntungan sesaat tidak sebanding dengan dampak jangka panjang dari salah memilih pemimpin.
Seorang kepala desa akan memimpin selama masa jabatannya. Kebijakan yang diambil akan memengaruhi pembangunan desa, pelayanan masyarakat, penggunaan anggaran, bahkan kehidupan sosial warga.
Karena itu, satu keputusan di bilik suara bisa menentukan arah desa selama bertahun-tahun.
Jangan sampai masyarakat memperoleh keuntungan sesaat, tetapi kemudian harus menanggung akibat dari kepemimpinan yang buruk dalam jangka panjang.
Periksa Karakter dan Integritas
Dalam memilih calon kepala desa, masyarakat perlu memperhatikan beberapa hal mendasar.
Pertama, integritas. Seberapa besar calon tersebut dapat dipercaya dalam memegang amanah? Pemimpin desa akan berhubungan langsung dengan anggaran dan kepentingan masyarakat. Integritas menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar.
Kedua, kemampuan dan kapasitas. Apakah calon memahami persoalan desa? Apakah ia memiliki gagasan yang realistis? Apakah program yang disampaikan dapat dilaksanakan?
Ketiga, rekam jejak sosial. Bagaimana hubungan calon dengan masyarakat selama ini? Apakah ia aktif dalam kegiatan sosial? Apakah ia mampu membangun komunikasi dengan berbagai kelompok?
Keempat, komitmen terhadap transparansi. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana pemerintahan desa dijalankan dan bagaimana anggaran digunakan. Calon pemimpin yang baik seharusnya tidak alergi terhadap keterbukaan dan pengawasan.
Kelima, kemampuan mempersatukan masyarakat. Pilkades sering kali menimbulkan perbedaan pilihan. Namun setelah pemilihan selesai, kepala desa harus menjadi pemimpin bagi seluruh warga, bukan hanya bagi kelompok yang mendukungnya.
Masyarakat Harus Menjadi Pemilih yang Kritis
Pemilih yang cerdas tidak mudah terbawa euforia kampanye.
Masyarakat perlu membandingkan setiap calon secara objektif. Dengarkan visi dan programnya, tetapi jangan berhenti di sana. Periksa apakah program tersebut masuk akal dan sesuai dengan kebutuhan desa.
Warga juga perlu berani bertanya:
Apa persoalan utama desa saat ini?
Apa solusi yang ditawarkan calon?
Bagaimana calon akan menjalankan program tersebut?
Dari mana sumber pembiayaannya?
Apakah janji itu realistis atau hanya sekadar strategi untuk menarik suara?
Pertanyaan-pertanyaan kritis seperti ini penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam demokrasi desa.
Pemilih harus menjadi bagian dari proses pengawasan sejak sebelum pemilihan berlangsung.
Jangan Biarkan Desa Dipimpin oleh Sekadar Janji
Demokrasi desa akan menjadi kuat apabila masyarakat memilih berdasarkan pertimbangan yang rasional.
Pilkades bukan arena untuk menentukan siapa yang paling banyak menjanjikan sesuatu. Pilkades adalah kesempatan untuk memilih siapa yang paling layak diberi amanah.
Janji politik boleh didengarkan. Visi dan program tentu perlu dipertimbangkan. Namun semuanya harus dibandingkan dengan rekam jejak, karakter, kapasitas, dan integritas calon.
Sebab desa membutuhkan pemimpin yang mampu bekerja ketika sorak-sorai kampanye telah berakhir.
Masyarakat perlu mengingat bahwa memilih kepala desa bukan hanya menentukan pemenang sebuah kontestasi. Lebih dari itu, masyarakat sedang menentukan siapa yang akan memegang amanah untuk mengelola masa depan desanya.
Maka sebelum menentukan pilihan, kenali calon lebih dalam.
Jangan hanya melihat apa yang mereka katakan hari ini.
Lihat juga apa yang telah mereka lakukan selama ini.
Karena pada akhirnya, janji politik bisa memikat, tetapi rekam jejak adalah bukti.
Dan desa yang baik hanya akan tumbuh dari pilihan masyarakat yang cerdas, kritis, dan tidak mudah terjebak oleh janji-janji manis menjelang pemilihan.*(darojat/lokalpos)


